Ada beberapa penjelasan kenapa marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah ketika Anda dan suami bertengkar :
- Meskipun Anda marah karena mengeluhkan hal yang benar, apa yang Anda lakukan itu justru membuat suami sebal.
- Aksi marah-marah Anda hanya akan membuat suami menjadi lebih defensif.
- Marah-marah membuat Anda seolah-olah berada dalam posisi sebagai orangtua, sedangkan suami adalah anak yang sedang dimarahi. Tentunya ini tidak sehat untuk kehidupan pernikahan.
- Saat dimarahi, pasangan merasa dirinya diserang secara pribadi.
- Marah-marah dapat membuat suami merasa harga dirinya dilecehkan.
Setelah menyadari kalau marah-marah hanyalah sebuah kegiatan yang menguras energi tanpa solusi, kini yang perlu Anda lakukan adalah mencoba mengurangi aktivitas tersebut. Bagaimana caranya?
- Cobalah untuk tidak langsung menyalahkan pasangan.
- Jangan merendahkan harga diri pasangan.
- Jangan menyerang pasangan.
- Jangan memanipulasi kesalahan pasangan.
- Hindari membuat pasangan merasa dirinya bodoh.
- Jangan langsung cepat menyerah, kemdian marah-marah dan melakukan tugas rumah tangga yang seharusnya dilakukan pasangan. Biarkan pasangan menyadari konsekuensinya atas keteledorannya sendiri.
Ketimbang marah-marah, Anda juga bisa mencoba pendekatan yang lebih positif ketika pasangan melakukan hal yang kurang menyenangkan dan membuat Anda emosi. Apa saja?
- Anda bisa berkomunikasi, mengungkapkan kondisi yang terjadi.
- Ketika mengobrol, jangan merembet ke masalah yang lain. Fokus pada masalah yang memang membuat Anda emosi saat itu.
- Jangan bertele-tele sehingga terkesan Anda sedang menceramahinya ketika mengajak pasangan diskusi.
- Hindari memberikan ultimatum atau ancaman. Sebaiknya juga hindari kalimat seperti ‘kamu selalu’, ‘kamu tidak pernah’ dan ‘kamu seharusnya’. Gunakan kalimat yang lebih positif misalnya ‘maukah kamu’ atau bisakah kamu’.
- Berikan contoh yang benar misalnya dengan selalu menaruh pakaian kotor di tempatnya, makan sehat, olahraga, dan lain-lain.
- Bicarakan dengan pasangan apa solusi terbaik agar permasalahan serupa tidak terjadi lagi. Misalnya kalau pasangan selalu lupa mengerjakan tugas rumah tangga, apakah sebaiknya mempekerjakan pembantu atau tidak.
- Ketika pasangan sudah menunjukkan perubahan, berikan apresiasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar